SOWETO, — Ribuan anak sekolah lanjutan berkumpul di Jalan Moema dan Vilakazi, Soweto. Mereka memprotes penggunaan bahasa Afrikaans di sekolah mereka. Lalu, polisi membabi-buta menembaki mereka. Sebanyak 500 siswa yang umurnya 12-18 tahun itu tewas, ratusan lain terluka. Hector Pietersen (saat itu 12 tahun), menjadi korban tewas pertama.
Itu pemandangan mengerikan pada 16 Juni 1976, ketika apartheid masih berkuasa di Afrika Selatan, dan Hector Pieterson dianggap menjadi anak pertama yang ditembak mati. Namun, ada pendapat lain bahwa yang tertembak mati pertama adalah Hastings Ndlou, hanya dia tak sempat diambil gambarnya oleh wartawan.
Peristiwa itu akhirnya menjadi pemicu kemarahan kulit hitam di Afrika Selatan (Afsel). Bahkan, peristiwa itu kini selalu diperingati dan tanggal 16 Juni dijadikan Hari Pemuda, sebagai simbol perlawanan terhadap apartheid. Pemerintah pun membangun museum Hector Pieterson di West Orlando, Soweto.
Selama Piala Dunia 2010, museum itu ramai dikunjungi turis yang rata-rata suporter tim sepak bola. Mereka pun tertegun, miris, bahkan ada yang menangis saat berkunjung ke museum itu. Seolah, bau darah Pieterson masih tercium anyirnya. Kepedihan kulit hitam akibat penindasan pemerintah apartheid seolah juga masih terngiang. Tangisan dan rintihan anak-anak sekolah korban pembantaian 16 Juni 1976 seolah masih terdengar.
Apartheid memang sudah berlalu. Politik pembedaan berdasarkan warna kulit itu sudah dibubarkan pada 1994. Namun, lukanya seolah masih terasa, apalagi saat mengunjungi Museum Hector Pieterson.
Insiden 16 Juni berawal dari protes para siswa lanjutan. Di Afsel, sekolah dasar sampai tujuh tahun. Setelah lulus, mereka langsung melanjutkan pendidikan ke high school dari tingkat kedelapan sampai ke-12, baru memasuki bangku kuliah.
Nah, pada masa apartheid, pemerintah kulit putih mengharuskan bahasa Afrikaans yang intinya bahasa Belanda sebagai bahasa resmi. Bahkan, ujian pun harus menggunakan bahasa Afrikaans.
Para siswa itu akhirnya memprotesnya. Pada 16 Juni 1976, mereka berkumpul dan melakukan demonstrasi damai di Soweto. Polisi apartheid langsung mendatangi dan meminta mereka bubar. Namun, para siswa justru menyanyikan lagu kebanggaan mereka, "Vilakazi Streets".
Polisi pun kalap. Mereka langsung melepaskan tembakan peluru tajam ke arah anak-anak sekolah tersebut. Hector Pieterson pun terkena tembakan. Lalu, siswa lain juga dihujani tembakan hingga mayat bergelimpangan.
Rekan Pietersen, Mbuyisa Makhubo (saat itu 18 tahun), langsung menggendong Pietersen. Dia didampingi kakak perempuan Pietersen, Antoinette (saat itu 17 tahun). Mereka bersama melarikan Pieterson ke rumah sakit. Aksi itu dipotret oleh wartawan Sam Nzima. Foto itu kini dibesarkan dan menjadi salah satu koleksi Museum Hector Pietersen.
"Saya melihat anak terjatuh. Di bawah hujan peluru, saya mendatanginya dan mengambil gambarnya," kata Nzima seperti tertulis dalam brosur atau di museum.
Seorang wartawan, Sophie Tema, melarikan Pietersen ke klinik terdekat. Namun, dia meninggal di tempat itu karena kehabisan darah.
Polisi akhirnya mengejar Mbuyisa dan Nzima. Mereka kemudian lari menyembunyikan diri. Ibu Mbuyisa kepada Truth and reconciliation Commision (lembaga yang dibentuk setelah apartheid runtuh), mengatakan bahwa anaknya pergi ke Nigeria.
"Saya menerima surat terakhir dari Nigeria pada 1978. Setelah itu, dia tak terdengar lagi sampai sekarang," katanya.
Banyak kisah kepedihan dan luka menganga akibat kekerasan pada 16 Juni 1976 itu. Museum Hector Pietersen pun menjadi penanda kekejaman masa lalu. Selain setiap tahun menjadi lokasi perayaan Hari Pemuda, tempat itu juga banyak dikunjungi orang dari berbagai negara.
Bahkan, anak-anak sekolah di Afsel pun selalu dibawa oleh gurunya ke museum itu sepanjang bulan Juni. Museum itu bagian dari sejarah penting Afsel dan juga inspirasi besar buat kulit hitam, sekaligus pelajaran berharga bagi kemanusiaan.
Ketika anak-anak sekolah mengunjungi museum itu, melihat foto Pieterson digendong Mbuyisa, mereka tampak menahan tangis. Begitu juga orang-orang dewasa yang menyaksikannya. Darah Peitersen dan ratusan anak sekolah lain pada 1976 seolah masih mengalir dan terasa anyirnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar