Kamis, 01 Juli 2010

Piala Dunia Didominasi Serangan Balik

Para pemain Brasil bergembira setelah striker Robinho mencetak gol ke gawang Cile dalam pertandingan 16 besar Piala Dunia 2010 di Stadion Ellis Park, Johannesburg, Senin (28/6/2010).

JOHANNESBURG, - Tak ada lagi Jogo Bonito atau permainan indah Brasil. Tak ada lagi permainan menyerang total ala Belanda. Piala Dunia 2010 dikuasai permainan bertahan yang ketat dan serangan balik yang cepat.

Gaya permainan itu mengantarkan delapan tim lolos ke perempat final. Setidaknya, itu pendapat legenda Brasil, Tostao, dan asisten pelatih Belanda, Frank de Boer.

Statistik juga menunjukkan kurangnya permainan menyerang selama Piala Dunia. Dari 48 pertandingan babak penyisihan grup, rata-rata dalam setiap pertandingan hanya terjadi dua gol. Di babak 16 besar, rata-rata gol per pertandingan juga kurang dari tiga, namun sedikit meningkat menjadi 2,75 per pertandingan.

Meski begitu, secara keseluruhan dalam tiga Piala Duni sebekumnya, permainan bertahan dan mengandalkan serangan balik cenderung jadi pilihan tim peserta. Rata-rata gol pun semakin menurun. Pada Piala Dunia 1998, rata-rata gol per pertandingan mencapai 2,67. Piala Dunia 2002 menurun menjadi 2,52 gol per pertandingan. Bahkan, di Piala Dunia 2006, rata-rata hanya ada 2,30 gol per pertandingan.

Piala Dunia 2010 memang belum berakhir. Namun, melihat kecenderungan di babak penyisihan, sepertinya permainan bertahan dan mengandalkan serangan balik akan semakin menjadi pegangan. Apalagi, ini sudah memasuki babak perempat final yang bersistem knock-out dan amat menentukan.

Hampir semua tim sangat menekankan fullback yang tangguh dan disiplin, kemudian memasang satu orang penyelesai yang jago. Begitu mendapat bola, tiga orang atau lebih akan dengan cepat maju dan menyerang. Spanyol masih khas dengan umpan-umpan pendek dalam menyerang. Namun, filosofi pertahanan Spanyol juga masih tradisional. Para defender harus disiplin menjaga wilayahnya, tanpa boleh terlalu banyak membantu serangan, kecuali saat ada set piece.

Brasil yang dulu identik dengan permainan indah dan menyerang, kini mengubah gayanya. Tiga gol Brasil saat lawan Cile di 16 besar juga didominasi serangan balik cepat. Gol Luis Fabiano yang berawal dari aksi dan serangan cepat kombinasi Robinho dan Kaka, identik dengan serangan balik cepat Brasil.

"Brasil yang selalu menjadi tim menyerang dan menekan, kini sudah berubah menjadi tim yang bertahan dan mengandalkan serangan balik. Brasil yang dulu dipuja karena mampu melakukan umpan-umpan mengalir dan indah, kini tak ada lagi. Piala Dunia sekarang adalah eranya sepakbola dengan pertahanan ketat dan serangan balik," kata legenda Brasil yang ikut membawa negaranya juara Piala Dunia 1970, Tostao.

Jerman juga mempertontonkan serangan balik yang bagus. Mereka mementingkan pertahanan dulu. Begitu lawan melakukan kesalahan, mereka akan menyerang dengan cepat. Inggris sudah merasakan hantaman gaya Jerman itu.

Belanda yang dulu terkenal dengan total football, kini juga sudah mengubah diri. Mereka cenderung memperhatikan pertahanan lebih dulu, baru menyerang balik. Wesley Sneijder diplot sebagai aktor serangan balik. Dia cukup sukses, salah satunya umpan 60 meternya kepada Arjen Robben saat lawan Slowakia. Dalam serangan cepat, Robben pun akhirnya mampu mencetak gol dan Belanda menang 2-1.

Asisten pelatih Belanda, Frank de Boer sendiri mengakui, pertahanan kuat dan serangan balik menjadi pilihan banyak tim, termasuk timnya. Sebab, ini pilihan aman.

"Itulah yang Anda lihat sekarang. Pertama-tama, tim mementingkan pertahanan dan menunggu kesalahan lawan. Kemudian, dua atau tiga pemain akan melakukan serangan cepat manakala menguasai bola dan lawan melakukan kesalahan," jelas De Boer.

Trend permainan bertahan dan mengandalkan serangan balik tampaknya akan terus terjadi selama Piala Dunia. Kemungkinan pula, tak banyak gol yang bakal tercipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar