Rabu, 16 Juni 2010

Konspirasi Ciptaan Maradona

Pelatih Argentina, Diego Armando Maradona.

DALAM beberapa pekan terakhir, salah satu contoh betapa kacau-balaunya Diego Maradona sebagai pelatih timnas Argentina dengan mudah dapat ditemui. Hal yang harus dilakukan hanyalah duduk menonton televisi dan melihat reaksi pers setelah Maradona menentukan 30 pemain yang akan dibawanya ke Piala Dunia pada Selasa (12/5/2010). Di sana akan terpapar dua pilihan aneh yang makin memperkuat keraguan terhadap efektivitas Maradona sebagai pelatih.

Sesudah Maradona melakukan protes kepada Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) karena membatalkan pertandingan persahabatan di Dubai (Uni Emirat Arab), Humberto, putra Presiden AFA, Julio Grondana, mengancam Maradona. “Jika kamu menyerang ayahku, saya akan menghajarmu,” kata Humberto.

Maradona kemudian menyerang balik sambil mengatakan, ”Saya hanya berbicara kepada ring master di sirkus.”

Itulah ucapan yang paling tepat mengenai rezimnya. Argentina bagaikan sebuah sirkus, mungkin lebih kompleks, terutama mengingat drama lain yang berkaitan dengan dia pada Senin (11/5/2010).

Kali ini berkaitan dengan Humberto, putra Alfio Basile yang digantikan Maradona sebagai pelatih ”Tim Tango”. Dalam Twitter-nya, Humberto menulis, ”Pada Piala Dunia, Argentina akan dilatih oleh konspirator.”

Inti dari argumen itu adalah Maradona mendekati pemain ketika Basile masih bertakhta. Dia kemudian berjanji kepada mereka bahwa semua akan masuk tim inti saat dirinya menjadi pelatih. Kesimpulannya, pemain akan bermain buruk agar Basile dipecat. ”Saya hanya menyatakan rahasia umum di sepak bola dunia,” ucap Humberto.

Asisten Basile, Carlos Dibos mengamininya dan menunjuk ke arah salah satu pemain. ”Dia seorang miliuner yang masih ada di dalam tim. Dia mengira dirinya adalah pemain terbaik sehingga bertingkah aneh kepada kami,” kata Dibos.

Media di Argentina berspekulasi dia adalah Gabriel Heinze yang mencetak gol bunuh diri saat melawan Paraguay pada kualifikasi Piala Dunia 2010. Pada pertandingan berikutnya, dia dicadangkan dan merayakan gol bersama rekan-rekan sebagai bentuk perlawanan terhadap Basile.

Gelandang Juan Roman Riquelme, yang kepergiannya masih menyisakan lubang besar, makin menegaskan adanya konspirasi. Riquelme menegaskan, ”Aku berharap tidak ada yang memaksaku untuk menjelaskan alasan pengunduran diri dari timnas.”

Sementara itu, Maradona menulis surat terbuka untuk menanggapi tuduhan Basile. Dia menyadari dirinya merekomendasikan Basile saat Boca mendekatinya. Sebagai garis bawah, Maradona berkilah, ”Sekarang saya perlu fokus ke Piala Dunia.”

Tidak mampu

Mungkin itulah yang dia lakukan pada Selasa (15/5/2010) ketika ditunggu untuk menyerahkan nama-nama pemain yang dibawanya. Mulanya dia berjanji akan mengumumkan pada pukul 15.00 waktu setempat. Namun, dia baru melakukannya pada 19.00 waktu setempat dengan menyertakan 10 pemain Liga Argentina dan meninggalkan dua juara Liga Champions, Javier Zanetti dan Esteban Cambiasso.

Hal paling mencengangkan tentang Maradona selama menjadi pelatih mungkin adalah jumlah pemain yang dipanggilnya. Dalam dua tahun, dia sudah memanggil 108 pemain. Alasan utama di balik itu ialah banyaknya jumlah pertandingan persahabatan yang dilakoninya. Tapi, dalam pertandingan terakhir, ketika timnya mencetak dua gol pada sepuluh menit terakhir saat mengalahkan Jamaika 2-1. Reaksi publik pun berbicara melalui beberapa media.

”Pertandingan itu sama sekali tidak memberi pelajaran,” tulis Clarin. Sementara La Nacion menyatakan, ”Ini memang sebuah kemenangan, namun pertanyaan yang ada tetap sama.”

Pertanyaan terbesar tersebut tentu saja kapasitas Maradona dalam menduduki jabatan sebagai pelatih. Kejadian memalukan terbesar tentu saja saat dia memanggil empat pemain Estudiantes tanpa menyadari bahwa mereka bermain di Copa Libertadores pada saat yang sama. Kemudian, dia memanggil striker Atletico Tucuman, Juan Pablo Pereyra hanya untuk dicoret lagi karena mengalami patah tulang hidung.

Dari semua pemain yang dipanggilnya, lebih dari dua puluh di antaranya adalah striker. Ini mengherankan karena dia sudah memiliki Lionel Messi, Gonzalo Higuain, Carlos Tevez dan Diego Milito yang mencetak lebih dari 20 gol pada musim ini. Mereka semua juga selalu menjadi headline media karena performa apiknya.

Sangat mengejutkan Higuain yang mencetak 24 gol dan sembilan assist bagi Real Madrid pada musim 2008-09 dan 27 gol pada musim 2009-2010 belum pernah dipanggil sebelum bulan lalu. Saat dimainkan, tidak aneh kemudian dia mencetak gol.

Maradona tidak pernah menjelaskan alasan penolakannya terhadap Higuain. Pers menduga hal ini disebabkan Higuain tidak cocok dengan Fernando Gago dan Heinze, dua pemain kesayangan Maradona.

Namun, melihat performanya selama ini, hampir mustahil meninggalkan Higuain karena dapat menggantikan peran Messi. Higuain bisa mencetak gol sekaligus menahan bola. Mirip peran Zlatan Ibrahimovic di Barcelona. Ini tidak bisa dikesampingkan begitu saja, dan di sinilah kemampuan Maradona sebagai pelatih akan diuji.

Perang melawan Messi

Musim 2009/2010, Lionel Messi mencuri perhatian setelah mencetak empat gol pada perempat final Liga Champions ke gawang Arsenal. Namun, bersamaan, voting di sebuah surat kabar Argentina memperlihatkan Messi berada di tiga besar dalam daftar pemain yang harus ditendang dari "Tim Tango".

Ayah Messi, Jorge membela putranya dengan menjelaskan kenapa penampilannya di timnas berbeda dengan di klub. "Di Barcelona, Messi berlatih setiap hari bersama rekan-rekannya. Di timnas tidak seperti itu. Dia tidak memiliki masalah ketika media mengkritiknya, tapi tidak benar jika dia dituding tidak serius bermain untuk Argentina," katanya.

Ini adalah alasan yang masuk akal, tapi masih ada penyebab lain. Mari kita mulai telaah. Argentina bermain dengan pola 4-4-2 dengan strategi utama serahkan bola kepada Messi dan biarkan dia melakukan segalanya. Di BArcelona, Messi mengaku mendapatkan dukungan penuh dari rekan-rekannya.

Liga BBVA tidak disiarkan di televisi terestrial di Argentina. Akibatnya, "Publik negerinya hanya melihat dua menit rekaman gol Messi di Barcelona. Ketika mereka tidak melihat itu bisa dilakukan di timnas, publik Argentina langsung kehilangan kesabaran," tulis kolomnis Perfil, Federico Bassahun.

Selain itu, faktor Maradona tidak bisa dikesampingkan. Pertama, Maradona sangat dicintai sehingga publik lebih berani mengkritik Messi ketimbang Maradona. Kedua, Maradona sudah menjadi "dewa" setelah mengantar juara Piala Dunia 1986 dengan tim seadanya. Sedangkan yang ketiga, sebagai pelatih, Maradona bukan Josep Guardiola. Keempat, Maradona melakukan perang dengan Messi agar tidak melebihi pencapaiannya.

Bulan April, Veintitres mengklaim Messi mengkritik banyaknya orang munafik yang membela Argentina. Sehingga, Argentina tidak pantas mendapatkan yang terbaik darinya. Mungkin ini ada benarnya. Argentina tidak membantu ketika ayah messi dipecat dari Acinder dan ketika diirnya menderita kekurangan hormon pertumbuhan.

Kenyataan bahwa Messi tinggal sembilan tahun di Spanyol makin memperburuk keadaan. Dia lebih dilihat sebagai orang Eropa ketimbang Argentina. Tak heran, publik Argentina lebih menyukai Carlos Tevez.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar