Kamis, 01 Juli 2010

"El Matador" Menyeruduk, Rekor Portugal Runtuh

Dua gelandang Spanyol, Andres Iniesta (kanan) dan Xavi Hernandez (tengah), menjadi kreator serangan tim ketika menang 1-0 atas Portugal di perdelapan final Piala Dunia 2010.

Portugal melangkah ke perdelapan final Piala Dunia 2010 ini dengan rekor yang menakjubkan. Sejak kualifikasi hingga mengakhiri babak penyisihan grup di putaran final turnamen empat tahunan ini, "Seleccao das Quinas" mencatat hasil yang sangat fantastis karena tidak terkalahkan dalam 19 pertandingan.

Bahkan dalam empat pertandingan terakhir, gawang Eduardo tak pernah kebobolan. Melawan Mosambik dalam pertandingan persahabatan di Johannesburg pada 8 Juni lalu, mereka menang 3-0. Kemudian di tiga laga penyisihan Grup G, Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan mencatat hasil 0-0 lawan Pantai Gading, sebelum membantai Korea Utara 7-0, dan kembali bermain kacamata alias 0-0 lawan Brasil dalam laga pamungkas.

Sebaliknya, Spanyol sempat mengkhawatirkan. "La Furia Roja" yang difavoritkan, justru di luar dugaan kalah 0-1 dari Swiss pada laga perdana penyisihan Grup H. Namun, di dua laga selanjutnya, juara Eropa ini bangkit dan melibas Honduras 2-0 dan menaklukkan Cile 2-1 untuk meraih tiket perdelapan final.

Karena status Spanyol sebagai juara Grup H dan Portugal runner-up Grup G, maka dua negara serumpun ini harus bertemu di babak 16 besar. Melihat rekor Portugal, pantaslah jika nyali para jugador Spanyol sempat ciut karena mereka sempat ragu, apakah bisa membobol gawang Eduardo atau tidak.

"Portugal memiliki pemain-pemain yang sangat impresif, terutama pertahanan. Itulah mengapa gawang mereka belum pernah kebobolan. Kami harus bermain dengan cara kami, memegang kendali dan menjaganya. Jika memiliki kesempatan, saya cukup yakin kami bisa mencetak gol," demikian pernyataan David Villa, sehari sebelum pertarungan di Stadion Cape Town ini.

Ternyata "El Guaje"—julukan Villa—benar. Menguasai jalannya permainan lewat dominasi ball possession serta mempertontonkan sepak bola indah dari kaki ke kaki, "La Furia Roja" bisa menembus pertahanan Portugal. Laksana banteng yang sedang mengamuk, "El Matador" berhasil meruntuhkan tembok kokoh Portugal sehingga terciptalah gol pada menit ke-63 yang dihasilkan Villa. Rekor tak terkalahkan Portugal pun runtuh di Cape Town.

Ya, Spanyol perlu kreasi dan variasi serangan untuk mencetak gol tunggal yang mengantar mereka ke perempat final Piala Dunia 2010 ini. Berawal dari kerja sama satu-dua Andres Iniesta dan Xavi Hernandez, Villa mendapat kesempatan untuk mengoyak jala Eduardo.

Meskipun berada di dalam kerumunan para pemain Portugal yang berada di dalam kotak penalti, Iniesta memberikan umpan pendek kepada Xavi. Tak menahan bola, Xavi langsung memberikan umpan backheel kepada Villa yang masuk dari sayap kiri sehingga striker Barcelona ini tinggal berhadapan dengan penjaga gawang. Villa lebih dulu melepaskan tendangan keras, tetapi bisa dihalau Eduardo. Bola rebound itu diteruskan lagi oleh Villa dengan kaki kanannya sehingga mampu menggetarkan jala setelah si Jabulani lebih dulu "menyapa" mistar gawang dan memantul ke dalam.

Eforia pun melanda kubu Spanyol. Ketegangan dan kekhawatiran yang sempat menghantui tim besutan Vicente del Bosque ini lenyap seketika, berubah menjadi sukacita.

Keunggulan 1-0 itu membuat Spanyol lebih menikmati permainan dengan melakukan ball possession. Tak pelak, Cristiano Ronaldo, yang digadang-gadang akan menjadi bintang dalam laga ini, gagal mempertontonkan kehebatannya sebagai pemain termahal di dunia karena dia tidak mendapat pasokan bola yang terus dikuasai para pemain Spanyol.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar