Senin, 12 Juli 2010

Menikmati Musik Coon di Cape Town

Sebuah grup memamerkan musik Coon di V&A Waterfront, Cape Town, menarik perhatian banyak suporter Piala Dunia 2010.

CAPE TOWN, — Orang Cape Town mempunyai tradisi indah bila sudah menginjak 26 Desember sampai akhir bulan. Mereka selalu menggelar Festival Ghoema atau Coon yang membuat seantero kota menjadi bergairah. Festival yang dipenuhi tarian, nyanyian, dan aneka pakaian berwarna-warni.

Sayang, Piala Dunia 2010 digelar pada bulan Juni dan Juli, hingga tak bisa menjadi saksi gairah budaya Cape Town. Namun, setidaknya masih bisa ditemui cuilan keindahan budaya coon di Cape Town selama kemeriahan Piala Dunia.

Di V&A Waterfront, tempat ribuan suporter sering berkumpul, selalu banyak kelompok musik yang mengamen di sana. Ini menjadi suguhan indah, sekaligus bisa membayangkan pesta ghoema.

Setidaknya, pengunjung bisa menikmati musiknya dan irama khasnya. Lagi pula, meski pengamen, mereka mempunyai kualitas bagus. Bahkan, mereka juga menjual CD hasil karya mereka.

Sekadar informasi, Cape Town didominasi masyarakat Cape Malay atau Colourd. Mereka keturunan Indonesia dan Asia Tenggara lain, campuran dengan orang asli atau kulit putih. Saat ini, jumlah Cape Malay di Cape Town diperkirakan mencapai 160.000.

Kemunculan Cape Malay tak lepas dari perbudakan di daerah itu sejak 1641 sampai 1824. Budak-budak itu rata-rata dari Indonesia, India, Sri Lanka, dan Madagaskar. Saat pembebasan, mereka kemudian membuat perayaan dengan festival, memakai pakaian berwarna-warni, menari, kemudian bernyanyi dengan lagu dan musik khas.

Musik coon atau ghoema sebenarnya banyak terpengaruh oleh musim Belanda, negeri yang lama menguasai Afsel dan membuat perbudakan. Namun, musik itu diterjemahkan para budak dengan jiwa mereka dan dicampur berbagai aliran dari daerah asal mereka, termasuk Indonesia. Akhirnya, jadilah musik khas warga Colourd atau Cape Malay.

Dengan memakai trompet, banjo, gitar, dan gendang menyerupai ghoema, mereka melanjutkan lagu-lagu karangan sendiri. Sebagian lagu bernuansa sedih, ratapan para budak. Namun, banyak pula lagu gembira dengan bit yang menyentak dan membuat orang langsung bergoyang.

Musik itu terus melanut di V&A Waterfront, Cape Town, selama Piala Dunia. Memang lewat sekelompok grup yang rata-rata sudah tua. Sebab, banyak anak muda yang kurang memelihara musik khas itu. Namun, itu sudah cukup memberi nuansa coon yang indah dan bergairah.

Sekali lagi, sayangnya Piala Dunia pada bulan Juni dan Juli. Sehingga, turnamen besar ini tak bisa dihibur Festival Coon yang menarik dan indah. Beruntung, masih ada beberapa kelompok yang memamerkan keindahan musik coon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar