JOHANNESBURG, — Seorang polisi mengendarai mobil BMW. Di tempat lain, polisi mengendarai Mercedes-Benz atau Audi. Pemandangan itu menjadi lumrah karena banyak polisi kaya di Afrika Selatan (Afsel).
Wajar jika banyak masyarakat segera menuduh banyak anggota South Africa Police Service (SAPS) yang korupsi. Selama Piala Dunia 2010, banyak yang mengkhawatirkan kriminal di Afsel karena termasuk tertinggi di dunia. Namun, banyak pula yang tak terlalu percaya kepada kinerja polisi. Faktanya, selama Piala Konfederasi 2009 sudah ada 39 kasus kriminal yang korbannya tim peserta atau suporter. Selama Piala Dunia 2010, kasus kriminal juga sudah banyak. Enam wartawan dirampok atau dimaling, bahkan tujuh replika Piala Dunia sudah dimaling pula.
Beberapa orang Afsel yang ditanya Kompas.com selalu menganjurkan jangan terlalu percaya kepada polisi. Sebab, banyak yang bekerja atas dasar keuntungan, bahkan ada yang memberi akses kepada kriminal.
Persoalan korupsi polisi di Afsel sebenarnya sudah lama menjadi keprihatinan. Maka, di Afsel muncul beberapa lembaga atau organisasi yang mengawasi persoalan korupsi, seperti Independent Complaints Diretorate (ICD), Anti-Corruption Command (ACC), dan Anti-Corruption Unit (ACC).
Wacana korupsi polisi semakin ramai ketika seorang anggota ACU tewas ditembak pada 2002. Hal itu seperti menegaskan bahwa persoalan korupsi di Afsel sudah begitu parah.
Masyarakat juga merasakan, mulai tahun 2000 keamanan sudah tak lagi terjamin. Warga tak banyak lagi yang berani kumpul di depan rumah atau keluar. Pembajakan, perampokan, pencurian, dan pemerkosaan semakin tinggi. Dan, sudah jadi rahasia umum banyak polisi yang korupsi, bahkan terlibat dalam serangkaian kejahatan.
Wajar jika warga Afsel kini lebih percaya kepada perusahaan-perusahaan sekuriti seperti ADT. Hampir di setiap rumah selalu ditempel plakat perusahaan sekuriti, sebagai tanda bahwa rumah itu dilindungi perusahaan tersebut.
"Habis, jika kita kemalingan atau kerampokan dan lapor polisi, penanganannya mengecewakan. Maka, warga Afsel banyak yang mempercayakan keamanan kepada perusahaan sekuriti karena lebih memuaskan dan cepat," ujar Carens, warga Pretoria.
CDU pernah mendata, setidaknya ada 43 kasus keluhan masyarakat kepada polisi di setiap tahunnya. Menurut peneliti ISS, Andrew Faull, sejak 2002 sampai 2006 ada 125 kasus yang berkenaan dengan korupsi polisi.
Wajar jika banyak polisi yang rekeningnya gemuk, kemudian mampu membeli BMW atau Mercedes dan mobil mewah lainnya.
Sudah menjadi rahasia umum pula, polisi di perbatasan juga sering melakukan korupsi. Mereka sengaja membobol beberapa pagar agar orang bisa masuk ke wilayah Afsel, tentu harus membayar polisi tersebut.
Maka, tak heran jika banyak pendatang di Afsel. Mereka sebagian membuat masalah keamanan karena mencari uang dengan cara kriminal. Apalagi, sebagian dari para imigran gelap itu bekas tentara di negaranya, seperti Mozambik, Namibia, Nigeria, Botswana, dan Zimbabwe. Mereka memanfaatkan keahliannya dengan melakukan kegiatan kriminal sehingga korupsi polisi pun menjadi akar tingginya kriminalitas di Afsel.
Hadirnya para pendatang ini sempat memunculkan xenophobia di Afsel. Pada Maret 2008, para pendatang dihajar dan dibantai. Sebanyak 62 orang tewas.
Korupsi di tubuh polisi memang menjadi persoalan penting karena menyangkut keamanan. Korupsi polisi tinggi, kriminalitas pun akan semakin tinggi. Akhirnya, masyarakat tak tahu lagi siapa penjahatnya, siapa pihak keamanannya. Wajar jika warga Afsel lebih percaya kepada perusahaan sekuriti swasta yang lebih profesional kerjanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar