Seorang suporter, yang tergambar siluet oleh bulan, meniup vuvuzela sebelum laga 16 besar antara Amerika Serikat dan Ghana di Stadion Royal Bafokeng, Rustenburg, 26 Juni.
SORAK-SORAI pendukung kesebelasan ”The St George Cross” Inggris di Stadion Nelson Mandela Bay, Port Elizabeth, nyaris tenggelam dengan bunyi terompet khas Afrika Selatan, vuvuzela, menyambut gol Jermain Defoe pada menit ke-23. Lagu ”God Save the Queen and England” yang biasa dinyanyikan kelompok suporter Inggris tidak terdengar lagi. Hanya ada suara keras terompet vuvuzela yang terus bergema sepanjang pertandingan.
Memang tidak ada larangan orang meniup vuvuzela selama Piala Dunia di Afrika Selatan meski sebagian penonton merasa terganggu dengan bunyi berisik vuvuzela. Beberapa ahli mengatakan, kebisingan di atas 85 desibel sudah dapat merusak pendengaran, padahal kebisingan vuvuzela mencapai 127 desibel.
Perdebatan vuvuzela kemungkinan terjadi seusai Piala Dunia setelah penyelenggara meminta fans sepak bola internasional, terutama Inggris, mengekspor klakson untuk negara mereka sendiri dan pertandingan Liga Primer. Beberapa suporter Inggris menyenangi bunyi vuvuzela, yang sebagian dari mereka meniup terompet khas Afrika Selatan itu di stadion.
Berdasarkan hasil pemantauan Kompas di Johannesburg, tepatnya kawasan Melrose, sejumlah suporter Inggris yang merayakan kemenangan ”The Three Lions” atas Slovenia, Rabu (23/6) malam, sangat bersukacita dan mereka merayakannya dengan minum di sejumlah kafe. Mereka minum wine bersama dan tak lupa meniup vuvuzela, yang menimbulkan kegaduhan hampir sepanjang malam.
”Tentu hari yang menggembirakan untuk minum dan meniup vuvuzela. Kami akan membawa ini ke Premier League,” ujar Steve dari Liverpool. Kampanye Afrika Selatan memperkenalkan vuvuzela di dunia internasional tampaknya berhasil.
Menurut Steve, tidak ada aturan khusus melarang alat musik ke dalam stadion sebagaimana dilakukan FIFA ketika mengizinkan vuvuzela berada di Piala Dunia. Akan tetapi, hal itu tergantung dari pihak klub dan perlu berkonsultasi dengan kelompok suporter klub untuk menentukan apa yang pantas.
Polemik
Kelompok suporter di Inggris yang tergabung dalam The Football Supporters Federation (FSF) dalam konferensi awal Juni lalu mendiskusikan dukungan bagi perkembangan sepak bola yang lebih baik. Salah satu yang memunculkan polemik adalah mengenai vuvuzela. Konferensi diselenggarakan atas sebuah konsensus politik yang berkembang tentang potensi untuk penggemar sepak bola membeli klub mereka dengan mendirikan koperasi.
Di samping itu, tema menarik adalah mengenai polemik vuvuzela setelah ketua panitia penyelenggara Piala Dunia Afrika Selatan, Danny Jordan, mengeluarkan larangan. Jordan lebih suka penonton bernyanyi daripada meniup vuvuzela.
Kala itu, sejumlah pertanyaan dilontarkan Jordan. Apakah Anda melihat vuvuzela sebagai contoh budaya lokal dan merembes ke dalam dunia sadar atau gangguan sakit kepala. Apakah tidak ada yang meragukan dampaknya terhadap turnamen dan penonton yang tak henti-hentinya mendengung?
FSF juga melansir berita mengenai vuvuzela yang telah memicu perdebatan internasional dengan munculnya keluhan. Dari jajak pendapat yang dilakukan pekan pertama Juni diperoleh data 69 persen dari 1.000 orang pendukung sepak bola di Inggris menyatakan tidak setuju dengan vuvuzela. Sisanya mempersilakan vuvuzela hadir di sana.
Akan tetapi, penyelenggara Afrika Selatan mengatakan, vuvuzela hari ini merupakan bagian penting dari budaya sepak bola negara dan tidak akan dilarang. ”Belum pernah ada pertimbangan untuk melarang mereka. Vuvuzela bagian dari sejarah yang sudah tertanam dalam budaya Afrika Selatan,” kata seorang juru bicara panitia penyelenggara.
”Vuvuzela berasal dari tanduk rusa, digunakan oleh nenek moyang kami untuk memanggil rapat. Namun, sekarang vuvuzela digunakan untuk mengungkapkan perasaan tentang permainan sepak bola itu sendiri,” ujar sang juru bicara.
Dia menunjukkan bahwa instrumen tersebut telah diadopsi oleh fans internasional, dengan suara vuvuzela mendominasi pertandingan yang melibatkan negara-negara Eropa juga. Vuvuzela sekarang telah menjadi instrumen internasional. Orang akan membeli barang-barang dan mereka masukan dalam koper untuk dibawa pulang,” katanya.
Orang-orang Afrika Selatan mengatakan, munculnya keluhan dari luar negeri karena vuvuzela ditiup sembarangan secara sendiri-sendiri. Jika ditiup bersamaan, suara vuvuzela sangat memotivasi tim di lapangan.
Tutup diskusi
Juru bicara panitia mencoba menarik garis perdebatan. ”Ini adalah event dunia yang diselenggarakan oleh Afrika Selatan. Sebagai tamu kami, silakan merangkul budaya kita dan cara kita merayakan,” katanya. ”Kita harus menutup diskusi ini sekarang. Kita telah berbicara tentang hal ini selama satu tahun dan tidak pernah akan berakhir. Anda juga mengasihi mereka atau Anda membenci mereka. Kami di Afrika Selatan mencintai mereka.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar