Senin, 12 Juli 2010

Cape Town Tuan Rumah Favorit

Suporter sepak bola berfoto dengan latar belakang Table Mountain yang sedang dihias pelangi.

CAPE TOWN, — Presiden Afrika Selatan (Afsel) Jacob Zuma mengatakan, "Di antara semua tuan rumah Piala Dunia 2010, Cape Town adalah favorit saya."

Pernyataan Sang Presiden itu rasanya memang tak berlebihan. Cape Town memang paling rapi dan menyenangkan dalam mengemas Piala Dunia, selain didukung kota yang indah dan banyak dipenuhi obyek wisata yang menyenangkan. Wajar jika banyak yang jatuh cinta kepada Cape Town.

Seorang wartawan Indonesia mengatakan, "Rasanya tak cukup hanya tiga hari di Cape Town. Mungkin kalau punya uang, aku akan mengajak keluarga ke kota ini lagi."

Wartawan lain menimpali, "Rasanya malah ingin tinggal di Cape Town."

Di tengah berbagai isu keamanan dan banyaknya kasus kriminal, Cape Town memang menawarkan kedamaian. Beda di Pretoria atau Johannesburg, warga Cape Town lebih ramah. Mereka juga punya budaya lebih menyenangkan.

Saat berjalan di kerumunan saja, warga Cape Town punya etika. Mereka sering memberi jalan kepada orang lain dan tak mau menangnya sendiri. Apalagi saat antre, semua berjalan rapi tanpa ada yang mau mendahului. Dalam berlalu lintas, Cape Town juga sangat menyenangkan dan rapi, serta penuh etika. Tak ada mobil yang berjalan ugal-ugalan atau mau menangnya sendiri.

Itu hanya bagian kecil dari keindahan Cape Town. Soal keamanan, nyaris tak ada wajah-wajah garang yang menatap pendatang dengan mata tajam dan motivasi negatif. Bahkan, mobil-mobil diparkir di pinggiran jalan dengan bebas, tanpa ada ketakutan akan dicuri atau dibongkar.

Kemeriahan Cape Town juga amat terasa. Setiap pertandingan, baik di stadion maupun di Fan Fest terlihat begitu bergairah. Panitia di Cape Town juga sangat bagus. Di Fan Fest, selain ada panggung dan layar lebar, juga ada dua layar lebar lain. Dengan demikian, orang bisa memilih di layar lebar mana mau menonton.

Di beberapa pojok tersuguh aneka atraksi atau hiburan spontan dari masyarakat. Ada aksi api, musik khas Coloured People, tarian kulit hitam, juga ada panggung musik. Rata-rata aksi seni itu menarik dengan kualitas tinggi. Mereka juga tak memaksa meminta bayaran, hanya memasang topi atau kotak. Penonton bebas mau memberi uang berapa.

"Bung, warga Cape Town suka kemeriahan dan perayaan. Kami tahu bagaimana membuat suasana meriah. Jika Anda datang pada akhir bulan Desember, maka akan merasakan betapa indahnya Cape Town. Sebab, ini saatnya pesta Coon. Warga berlomba menggunakan pakaian sebaik mungkin dengan aneka warna, kemudian kami merayakannya dengan berbagai atraksi dan musik," jelas Karim, warga Cape Town.

Keamanan di Cape Town menjadi salah satu kekuatan mereka. Petugas keamanan sangat tegas dan disiplin tanpa membuat pengunjung takut. Mereka selalu menyapa ramah dan minta maaf, sebelum memeriksa pengunjung.

Soal keindahan kota dan alam, itu menjadi kekuatan lain. Cape Town punya Table Mountain yang selalu dipenuhi pengunjung, Cape Point yang selalu pamer ribuan penguin, Stellenbosch yang punya banyak ladang anggur, juga Pantai Strand yang indah.

Table Mountain seolah selalu menjadi background setiap kegiatan. Malam hari pun, gunung setinggi 1.260 meter itu juga disorot lampu merkuri sehingga tampak kegagahannya.

Soal keindahan alam, keramahan, kerapian, perilaku, dan keamanan di Cape Town, tampaknya tak bisa ditandingi kota-kota lain di Afsel. Wajar jika banyak yang merindukan Cape Town.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar