Minggu, 11 Juli 2010

Senna? Sekarang Zamannya Busquets

Pemain Spanyol, Sergio Busquets (kanan).

JOHANNESBURG, — Dua tahun lalu, Marcos Senna menjadi perisai utama di lini tengah Spanyol. Ia menjadi pelindung sekaligus algojo yang menghentikan semua laju bola. Namun, era Senna sudah berakhir. Kini, sambutlah suksesornya, Sergio Busquets.

Pada Piala Eropa 2008, rasanya tak ada yang meragukan kualitas Senna. Pria berdarah Brasil itu mampu bersinar meski bersaing dengan nama-nama besar, seperti Andres Iniesta, Xavi Hernandez, David Silva, Iker Casillas, Carles Puyol, David Villa, dan Fernando Torres. Ia bahkan masuk kandidat pemain terbaik Piala Eropa versi UEFA.

Sayangnya, setelah dua tahun berjalan, performa Senna mulai angin-anginan. Pemain berusia 33 tahun itu tak sanggup membawa klubnya, Villarreal berprestasi. Ia juga kerap bolak-balik ruang perawatan karena cedera. Maka tak heran, Pelatih Spanyol, Vicente del Bosque, kemudian mengalihkan perhatiannya kepada pemain-pemain muda, khususnya Busquets.

Ketika Senna mengangkat trofi Piala Eropa tinggi-tinggi, Busquets hanyalah seorang pemuda yang rajin menjadi penghuni bangku cadangan Barcelona. Ia baru melakukan debutnya ketika Josep Guardiola datang. Di sinilah jalan kesuksesan Busquets dimulai. Ia kerap diberi kesempatan oleh Guardiola untuk bermain untuk menemani Xavi dan Iniesta.

Busquets membalas kesempatan yang diberikan kepadanya dengan penampilan gemilang. Nama-nama besar seperti Yaya Toure dan Seydou Keita bahkan harus tersingkir karena bakat emas Busquets.

Di Afrika Selatan, Busquets memiliki tugas yang sama dengan Senna, yaitu sebagai pemutus alur serangan lawan. Ia didampingi pemain yang lebih senior, yakni Xabi Alonso. Bahu-membahu keduanya sukses mengantarkan "La Furia Roja" hingga partai puncak.

"Aku merasa baik. Aku masih muda, tapi aku merasa semakin baik dari waktu ke waktu. Aku sangat bahagia dengan penampilanku, tapi yang paling penting adalah tim ini. Tanpa bantuan rekan-rekanku, rasanya tak mungkin aku berada di level ini," kata Busquets.

Guna menyamai prestasi Senna, Busquets masih harus melakukan pembuktian lagi. Kesempatan akan datang saat partai final Piala Dunia menghadapi Belanda, Senin (12/7/2010) dini hari WIB. Tugas utamanya tentu saja mematikan roh permainan "Tim Oranye", Wesley Sneijder.

Mampukah Busquets melakukannya? Kita tunggu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar